Airport to be Built on Bawean Island

Saif Bakham, a prominent figure on Bawean Island, was amazed when told an airport would be built connecting his home with the mainland.
His forehead wrinkled. “Is this really true? An airport? Built here on Bawean?” the 57-year-old Bawean resident asked The Jakarta Post on Friday. “Then their obsession is finally being realized,” he said darkly.
Bawean island lies 150 kilometers north of East Java in the Gresik regency and has 60,000 people.
Gresik’s Planning Board head Sarwadi says his administration plans to build an airport on one of the cliffs near Tanjungori in Tambak, in the next few years.

“If all runs smoothly, the airport will start operations in 2007,” he said.
The administration is preparing a 70-hectare plot of land for the airport, which will have a 900-meter runway. Only light aircraft will be able to land and take off.

The idea originated during a meeting between Malaysian and Singaporean businessmen and East Java Governor Imam Oetomo last year. At the meeting, the businessmen explained how much longer it took to travel from Surabaya to Bawean, compared with the time to travel by plane from Singapore to Surabaya.

“They said: ‘Why don’t you just build an airport on Bawean, it would be a lot faster’,” administration spokesman Suprawoto said.

A feasibility study was then conducted by a team from Surabaya’s Institute of Technology in January last year.

It was expected the airport would help open up Bawean as a tourist destination and would encourage growth in horticulture and fisheries.

Bawean has many potential tourist attractions. Beautiful coral reefs ring the island — especially on the beaches of Mayangkara near Kapuhteluk and around the smaller neighboring islands of Nusa, Cina, Karabile, East Gili and West Gili.

The island also has the Kastoba crater lake and several hot water springs. In the Kebuntelukdalam neighborhood there are also several scenic waterfalls.

Traveling by air, it would only take 15 minutes flying from Surabaya to get to the island. It usually takes three to 10 hours by sea from the port of Gresik on a passenger ferry.

Saif, however, was far from optimistic about the airport, which he said would only bring new problems. The money on the airport would be better off spent fixing existing infrastructure and shortages, he said.

He pointed to the construction of the grand fish landing harbor in Tanjungori. Conceived as a fishing port, it was supposed to become a fish trading center for fishermen in Bawean.

“Where are the results? From its inauguration in the mid-1990s until now it has remained empty,” he said.

Another urgent matter was the scarcity of fuel and electricity, which only met the needs of 10 out of the 30 villages on the island. “Not to mention the few paved roads, left over from the Dutch era,” he said.

Many of the island’s inhabitants were traditionally fisher folk. Now they were working in Singapore and Malaysia because of the poor job prospects at home. In Singapore, many worked in the informal sector — as parking attendants and construction laborers — sending part of their wages back home.

“The people cultivating the rice fields and trading on Bawean are people from Java,” Saif said.

Native Baweans also had little to do with development of the promising onyx stone quarry or tourism on the island.

Bawean, with its scattered hills, cliffs and its white beaches, could be as big a tourist spot as Bali, he said.

Local government had done little to encourage this industry, however. “Even with the (island’s) jetfoil boat — before that stopped service in middle of last year — not a single tourist has visited Bawean because of the lack of serious promotion,” he said.

Without an integrated approach to development on the island, an airport would be just another failed experiment, he said.(ID Nugroho, Surabaya)
Source : www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20040505.D03

One Response to “Airport to be Built on Bawean Island”

  1. TOURS & TRAVEL SERVICE
    “MITA JAYA”
    Jl. Harun Thohir No. 03 Gresik Telp. +6231-71298768 , +6281332880450

    Seiring dengan usaha yang saya lakukan sebelunya, yaitu merintis usaha ke negeri jiran Malaysia.timbul pemikiran untuk mengembangkan usaha pelayanan di bidang jasa TRAVEL dan PERHOTELAN. Dengan tujuan memberikan pelayanan yang terbaik kepada saudara –saudaraku di Malaysia dan Singapore yang bertujuan untuk pulang ke pulau Bawean (BOYAN).untuk memudahkan perjalanan dari Bandara Juanda sampai di Pulau Bawean.

    A. BIRO PERJALANAN TRAVEI MITA JAYA
    Dengan sarana transportasi dan kendaraan roda empat dengan fasilitas full AC dan musik menambah kenyamanan dalam perjalanan dengan tariff terjangkau. Dan siap menghantarkan perjalanan di pulau jawa , contoh ziarah Wali Songo dan tempat wisata yang lain.

    B. HOTEL MITA JAYA
    Dengan fasilitas kelas ekonomi dan VIP dengan ruang yang besar dan kapasitas besar kami siap memberikan pelayanan terbaik. Ditambah jarak yang dekat dengan pelabuhan dan sarana perbelanjaan di Kota Gresik .

    DIREKTUR

    AHMAD MUNASIK BIN MUHAIMIN

    PULAU BAWEAN

    Pulau Bawean terdiri atas dua keeamatan, 30 des a dan sekitar 143 dusun kampung. Kedua keeamatan itu ialah Keeamatan Sangkapura dan Tam Keeamatan Sangkapura dibagi menjadi 17 desa yaitu Desa Sawahmulya, K Kusuma, Sungaiteluk Patarselamat, Gunungteguh, Sungairujing, Balikte Daun, Kebunteluk Dalam, Sidogedung Batu, Lebak, Pudakittimur, ‘Uda barat, Komalasa, Suwari dan Deka-Tagung. Sedangkan Keeamatan Tambak meliputi Desa Tambak, Telukjatidawang Gelam, Sokaoneng, Sukalila, Kalompang-gubuk, Pakalongan, Tanjung Grejek, Paromaan, Diponggo, Kepuhteluk dan Kepuhlegundi.

    PETA PULAU BAWEAN

    Bawean merupakan sebuah pulau kecil yang dikitari pulau-pulau lain yang lebih keeil lagi seperti Pulau Selayar, Mamunik, Noko, Gili, Nusa, Karangbi dan Pulau Cina. Dihuni .68 ribu jiwa dengan mata pencarian penduduk bagian besar nelayan dan bertani yang tergabung dalam satu suku’, bangsa Suku Bawean. Pulau yang luasnya ± 200 km2 ini berada kurang lebih dua belas mill atau 120 kilometer sebelahutara Kota Gresik. Sejak tahun 1974, Pulau Bawean termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik, yang sebelumnya berada di bawah kuasaan Kabupaten Surabaya.

    Pulau Bawean terdiri atas dua keeamatan, 30 desa dan sekitar 143 dusun kampung. Kedua keeamatan itu ialah Keeamatan Sangkapura dan Tam Keeamatan Sangkapura dibagi menjadi 17 desa yaitu Desa Sawahmulya, K Kusuma, Sungaiteluk Patarselamat, Gunungteguh, Sungairujing, Balikte Daun, Kebunteluk Dalam, Sidogedung Batu, Lebak, Pudakittimur, ‘Uda barat, Komalasa, Suwari dan Deka-Tagung. Sedangkan Keeamatan Tambak meliputi Desa Tambak, Telukjatidawang Gelam, Sokaoneng, Sukalila, Kalompang-gubuk, Pakalongan, Tanjung Grejek, Paromaan, Diponggo, Kepuhteluk dan Kepuhlegundi.

    Pulau Bawean merupakan sebuah negeri. Lengkap dengan ibu kotanya yang bernama SANGKAPURA - indah nian namanya. Dilengkapi dengan pejabat kerajaan. Ada balai polis, pejabat pos dan taligeraf, ada hospital, sekolah, Syahbandar, kastam dan lain-lain lagi. Tapi keadaannya seperti sebuah Pulau yang begitu sedikit jalan raya yang beraspal. Jalan rayanya kecil dan sempit. Sesuai dengan kenderaan yang boleh dibilang dengan jari baik jenisnya mahu pun bilangannya.

    Kenderaan-kenderaan yang ada terdiri daripada beberapa buah van yang diubah sesuai tempat duduknya dijadikan kereta sewa. Itulah bas dan itulah teksi. Kenderaan yang lain euma beberapa buah beea roda tiga sarna keadaannya seperti beea-beea di utara Malaysia (pemandunya di belakang, tidak seperti di Melaka. pemandunya disamping’). Beberapa buah kereta kuda yang disebut “DOKER” dan beberapa buah motosikal dan basikal. Disebelah ialah Peta Gresik dan juga terdapat peta Pulau Bawean.

    Bahasa Bawean::

    Bahasa yang dipakai sehari-hari oleh penduduk Pulau Bawean ~ Babeyen. Bahasa Bawean hampir sama dengan bahasa terutama dengan bahasa yang dipergunakan oleh penduduk Kangean, Madura. Di samping bahasa Bawean yang merupakan bahasa seharian, ia dipergunakan pula dengan bahasa Indonesia. Satu keanihan’ ialah ada desa di Pulau Bawean, iaitu Desa Diponggo Kecamatan. Dalam percakapan sehari-harian antara penduduk desa, mereka menggunakan bahasa Jawa.

    Nama Asal Bawean::
    BA - WE - AN” erti dalam bahasa Sanskrit:
    BA ertinya: SIN A R
    WE ertinya: MA TA H A R I
    AN ertinya: A D A (SINAR MATAHARI ADA)

    Nama Pulau BAWEAN itu bukan nama asal Pulau Bawean. Nama Pulau Bawean sebelum ,itu ialah Pulau MAJIDI. Ada sejarah dan ceritanya yang menarik mengapa dari nama asal Pulau Majidi menjadi PULAU BAWEAN. Cerita ini saya sunting dari Bapak R. ABDURRACHMAN seorang tokoh sejarah, penulis dan berkedudukan sebagai KETUA PENGADILAN AGAMA di Pulau Bawean sekarang. Berusia dalam Enam Puluhan. Beliau adalah paling disegani dan sangat dihormati oleh penduduk Pulau Bawean.

    Ceritanya begini: Bahawa ldra-kira dalam tahun 1350 Masihi, ketika itu Pulau Bawean bemama Pulau Majidi, datanglah serombongan orang entah pedagang entah pembesar negeri atau entah pengembara, mereka dipercayai datang dari Pantai Utara Pulau J awa. Mereka berhajat: hendak pergike Pulau Majidi. Maka belayarlah mereka dengan beberapa buah perahu yang dipimpin oleh seorang ketua. Tapi malang nasib mereka di tengah perjalanan perahu-perahu mereka diserang ribut taufan dan gelombang yang besar. Namun berkat kesabaran akhirnya mereka sampai juga di Pulau Majidi.

    Ketika mereka hampir sampai di Pulau Majidi mereka masih belum melihat jelas bagaimana rupa sebenarnya Pulau Majidi. Kerana kabus terlalu tebal sepertL sengaja menutup pandangan mereka. Tapi anihnya, apabila mereka menjejakkan kakinya di Pulau Majidi tiba-tiba saja suasana berubah. Cuaca yang berkabus menjadi terang benderang. Matahari naik bersemarak memancar dari arah timur. Demi melihat perubahan suasana itu Ketua mereka secara spontan berkata BAWEAN .Dari semenjak itu Pulau Majidi tidak• disebut orang melainkan PULAU BAWEAN.

    PEMANDANGAN BAWEAN

    Danau KastobaDanau Kastoba terletak di puncak bukit ditengah-tengah Bawean. Pencinta alam dapat menikmati keindah Danau dan juga pohon-pohon raksasa. Selain itu, ditempat ini terdapat binatang-binatang langka jenis serangga yang sudah tidak mungkin dijumpai dimana-mana.a

    Pantai Mayangkara
    Pantai Mayangkara selain indah dengan kebiruan pantainya mempunyai nilai historic berkaitan dengan Sunan Giri. Yaitu Isteri beliau yang bernama Siti Zainab pertama kali mendarat di pantai ini dan ditemukan oleh ibu “Rambut Panjang”. Keindahan pantai ini tidak diragukan lagi karena seorang peneliti barat pernah mengatakan bahawa pantai ini terindah nombor dua di dunia setelah Pantai Pattaya, Thailand.

    Sumber Air Panas
    Sumber air panas ini ada di beberapa tempat di Bawean. Namun ada dua sumber air panas yang banyak dikunjungi pelancong (Wisnu dan Wisman). Ia terletak di dijantung kota Sangkapura hanya 200m dari jalanraya.

    Gua Gelang Agung
    Gua Gelang Agung terletak di Desa Melirang Kec. Bungah dan jarak antara Desa dari jalanraya Bungah. Gua ini sedalam kira-kira 4 KM dan mempunyai pemandangan seperti pada gua yang lain.

    ::Masuknya Agama Islam di Pulau Bawean::

    Pada permulaan abad ke XVI (kira-kira tahun 1501 Masehi) datanglah ke Pulau Bawean seorang bernama Maulana Umar Mas’ud (nama asalnya adalah Parigeran Perigi). Beliau adalah cucu dari Sunan Derajat (Sayid Zainal Alim), iaitu anak yang kedua dari Susuhunan Mojoagung (putera Sayid Zainal ‘Alim yang tertua). Maulana Umar Mas’ud datang ke Pulau Bawean dari Pulau Madura. Beliau datang ke Madura bersama saudaranya yang bernama Pangeran Sekara. Pangeran Sekara ini menetap di Madura serta beristeri di sana ( di Arosbaya), sedangkan Pangiran Pergi (Maulana Umar Mas’ud) keluar dari Madura menuju ke arah utara sehingga sampai di Pulau Bawean dan mendarat di sebuah dusun yang sekarang bernama Kumalasa. Konon menurut cerita, beliau datang ke Bawean dari Madura dengan menaiki seekor ikan.

    Pada mulanya setelah tiba di Pulau Bawean, Maulana Umar Mas’ud tidak langsung mengajarkan dan menyiarkan agama Islam, tetapi pertama yang beliau lakukan ialah mempergauli penduduk setempat dengan ramah tamah sehingga dalam pergaulan itu sudah tidak ada perasaan bahawa beliau adalah orang asing. Pergaulan beliau dengan orang-orang sekitar dusun yang beliau tempati sangat erat sekali, sehinqga semua orang yang beliau gauli menaruh kepercayaan kepada beliau. Apa lagi di dusun itu sudah lebih dahulu datang seorang muslim, namun kedatangannya tidak bermaksud dan tidak berfungsi sebagai mubaligh.
    Tiada berapa lama Maulana Umar Mas’ud mendapat berita bahawa Pulau Bawean diperintah oleh seorang Raja yang menganut faham animisme. Raja itu sangat dipatuhi oleh rakyatnya sehingga rakyatnya pun mengikut kepercayaan yang dianuti Rajanya. Setelah Maulana Umar Mas’ud mendengar berita yang demikian itu, maka berangkatlah beliau menuju dusun Panagi, tempat kedudukan Raja Babileono memerintah. Maksud beliau mengunjungi Raja itu ialah akan mencari kebenaran berita yang diperolehinya. Dan apabila memang benar demikian, beliau akan mengajak dan menyeru Raja tersebut kepada Agama Islam. Kerana beliau berkeyakinan, apabila Raja itu nanti mahu memeluk Agama Islam, maka semua rakyatnya akan mengikuti pula.
    Al-kisah, setelah Maulana Umar Mas’ud tiba di dusun Panagi dan berjumpa dengan Raja Babileono, benarlah berita yang beliau peroleh, bahawa Raja itu berkepercayaan animisme. Dalam pertemuan itu Maulana Umar Mas’ud dengan penuh kebijaksanaan mengajak dan menyuruh Raja memeluk Agama Islam. Ajakan dan seruan beliauditolak oleh Raja dan sampai berulang-ulang Maulana Umar Mas’ud menyatakan maksudnya itu tetapi selalu ditolak oleh Raja. Akhirnya Raja Babileono mengajukan tentangan kepada Maulana Umar Mas’ud, bahawa beliau harus mengadu sakti dan kekuatan dengan Raja serta dengan syarat, bahawa siapa yang kalah harus tunduk dan patuh kepada yang memang. Tentangan dan syarat tersebut diterima oleh Maulana Umar Mas’ud. Kemudian ditentukan waktunya serta tempat diselenggarakannya adu sakti dan kekuatan itu. Pada-waktu yang telah ditentukan maka berkumpullah semua pembantu Raja Babileono beserta rakyatnya yang ingin menyaksikan adu sakti dan kekuatan tersebut di sebuah lapangan yang sudah ditentukan pula. Raja dan Maulana Umar Mas’ud juga sudah berada di tengah-tengah lapangan.
    Sebagaimana lazimnya dengan keadaan kehidupan pemimpin-pemimpin masa dulu, demikian pula halnya dengan apa yang terjadi antara Raja Babileono dengan Maulana Umar Mas’ud. Adu sakti dan kekuatan yang terjadi antara keduanya berjalan demikian:
    Dengan kesaktian dan kekuatan ilmu batinnya, Raja Babileono merebahkan pohon kayu yang sangat besar tanpa alat dan bantuan sesiapapun.” Raja mempersilakan Maulana. Umar- Mils’ud supaya menegakkan kembali pohon kayu yang sudah rebah itu. Semua yang hadir menunggu apa yang akan dilakukan oleh Maulana Umar: Mas’ud dalam usahanya menegakkan kembali pohon itu. Maulana Umar Mas’ud berjalan dengan tenang menghampiri dan mendekati pohon besar yang tumbang itu dan menyapu sebahagian batang pohon tersebut dengan tangannya kemudian pohon itu bergerak dan tegak kembali seperti sediakala.
    Sekarang sampai giliran Maulana Umar Mas’ud. Beliau mengambil dan menghela seekor kerbau ke tengah-tengah lapangan. Kerbau itu beliau rebahkan dengan tongkat yang dibawanya. Setelah itu beliau mempersilakan Raja Babileono mengangkat dan membangunkan kerbau tersebut. Raja Babileono menghampirinya dan kemudian berusaha mengangkat dan membangunkannya. Usaha Raja sia-sia belaka. Berbagai cara dan kekuatan yang dia dilakukan, namun usahanya itu tidak membawa hasil sarna sekali. Raja dipersilakan meminta bantuan para pembantunya oleh Maulana Umar Mas’ud untuk mengangkat dan membangunkan kerbau itu, tetapi usaha bantuan itu pun. sia-sia juga. Akhirnya kerana Raja Babileono sudah tidak berdaya lagi untuk mengangkat dan membangunkan kerbau tersebut sekali pun sudah dibantu pula oleh para pembantunya, maka Maulana Umar” Mas’ud datang menghampiri kerbau itu dan dengan tongkatnya beliau mengangkat dan membangunkannya. Gemparlah keadaan sekitar. tempat adu sakti dan kekuatan tersebut, kerana kekalahan yang diderita oleh Raja Babileono. Melihat kejadian semacam itu Raja Babileono tidak dapat menahan marah dan rasa malu akan kekalahannya dan ditambah pula harus tunduk dan patuh kepada Maulana Umar Mas’ud, sebagaimana persyaratan yang sudah dibuat, maka Raja Babileono menghunus pedangnya menyerang Maulana Umar Mas’ud.

    Tetapi dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, Maulana Umar Mas’ud dengan cepat dan tangkas menepis serangan itu, sehingga kerana kerasnya tangkisan dan pukulan. tongkat Maulana Umar Mas’ud yang mengenai pedang Raja, maka pedang itu berbalik. mengenai diri Raja Babileono sendiri. Beliau pun akhirnya meninggal dunia. Mayat Raja Babileono kemudian dibuang orang ke dalam laut. Dan dari situlah Maulana Umar Mas’ud menyebarkan Islam.

Leave a Reply